Thu. May 13th, 2021

Gudeg dijual hampir 24 jam di Yogyakarta. Dari pagi sampai subuh ada saja penjual gudeg di sudut Kota Pelajar. Uniknya gudeg yang dijual tengah malam sampai subuh tetap punya banyak penggemar.

Penjual gudeg tengah malam ini punya pelanggan setia yang rela antre bahkan sebelum warung makan buka. Dari mana budaya menjual gudeg saat tengah malam sampai subuh ini? "Orang Jawa itu punya filosofi menikmati sesuatu paling bisa dilakukan di malam hari. Sebutannya mat matan ," kata pemerhati Kuliner Indonesia dan penulis buku kuliner, Prof Dr. Murdijati Gardjito saat ditemui Kompas.com pada 2018.

Istilah mat matan dalam Jawa dijelaskan Murdijati adalah merasakan sesuatu secara santai, perlahan lahan, dengan perasaan. Saat pagi ia menyebutkan biasanya orang sibuk menyiapkan hari, siang sibuk bekerja, dan malam menjadi sisa waktu untuk bersantai. Maka tidak heran, menurut Murdijati, di daerah Yogyakarta dan sekitar ada banyak makanan yang dijual hanya pada malam hari.

Selain gudeg, ada pula warung bakmi jawa dan angkringan yang identik buka pada malam hari. "Kebiasaan itu sudah lama, tetapi lebih tua kebiasaan gudeg dijual di pagi hari. Bubur gudeg itu banyak untuk anak anak. Perhatikan kalau gudeg malam buburnya lebih sedikit," jelas Murdijati. Pelanggan gudeg saat malam hari, lanjutnya, didominasi oleh laki laki. Mereka adalah orang orang yang sibuk mencari nafkah saat pagi hari kemudian malam menikmati gudeg.

"Saat belum ada kesetaraan jender, perempuan pergi beli makan saat malam hari itu dianggap kurang etis," sebut Murdijati.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *